Bersandar pada sebatang pohon, di lengkungnya biru langit.
Kakiku yang kering menyapa rumput.
Tanganku yang kecil memeluk kertas.
Dan jemariku yg centil berdansa bersama pena.
Ku pejamkan mata, kurasakan kehadiran angin.
Tak sungkan bahkan tak permisi.
Angin sepoi itu masuk ke lubuk hati.
Membawa serta harapan yang ku nanti.
Harapan, memberi kesegaran bagi hatiku yang mati.
Biarlah, walau bersama angin ceria hidupku.
Tertawa bersamanya, angin. Kering bibirku.
Tertawa bersama-mu basah pipiku
Wahai Tuhan, patah hatiku,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar