Aku mencari engkau datang...
Bak seorang pelaut kamu berlayar di hatiku.
Aku marah kamu tertawa...
Sepertinya aku memang menunggu lelucon cintamu.
Aku menutup pintu hati ku, kamu mengetuknya.
Dan kamu memang tamu yang di tunggu hatiku.
Aku cuek, lalu engkau merayuku...
Kamu memang perayu gombal yang handal.
Aku telah menjadi kamu
Wahai fatwa pujangga hatiku
Hari esok belum tentu sebaik hari ini
Hari ini aku tak memberi mu apapun
Tapi kenapa setiap waktu engkau memberikan senyuman itu.
Di sudut pelangi akan ku ceritakan pada warna-warni bahwa engkau telah melukiskan keindahan dibalik kesedihan.
Tetaplah begini waktu memakan kita seperti usia yang semakin menua.
Tapi cinta kita mengikat waktu.
Aku dan kamu
Kamu dan aku
Inilah waktu kita.